Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label tulisan motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2013

Berjuang Membangun Rumah Tangga Terbaik

Seharusnya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan untuk kita, dari jenis kita sendiri, pasangan kita, jodoh-jodoh agar kita condong tenteram kepada mereka dan menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kita.

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam AlQuran sebagai perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan pula semata-mata sebagai sarana mendapatkan keturunan, apalagi hanya sebagai penyaluran ‘libido seksualitas’ atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Penikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Pernikahan adalah surga bagi pasangan yang bertanggungjawab dan melaksanakan amanah. Masing-masing dari pasangan, yaitu suami-isteri memikul tanggung jawab bagi keberhasilan pernikahan mereka untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, maka insya Allah keharmonisan dan kebahagian hidup rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah (SAMARA) akan lestari sampai Hari Akhir.

Namun, sebaliknya apabila masing-masing pasangan hanya melihat, dan menuntut haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki (suami) dan perempuan (istri), secara fitrah mempunyai kelebihan dan kekurangannnya masing-masing. Namun kelebihannya itu bukan untuk dibanggakan.

Begitu pula dengan kekurangan pasangan bukan untuk diejek atau bahkan dibuat rendah (direndahkan). Tetapi semua itu, pernikahan merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi dengan penuh amanah dan tanggungjawab.

Suami dan isteri hendaklah bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak Islam dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.


Kamis, 19 September 2013

Bila Gerakan Dakwah Memasuki Wilayah Politik

Pergilah kepada Fir'aun, sesungguhnya ia benar-benar telah melampaui batas”. (QS Thaha: 24). Seruan dakwah para nabi dan utusan Allah bertujuan tegaknya agama di muka bumi.

Kenyataan menunjukan bahwa jagat politik merupakan salah satu dari dimensi kehidupan manusia. Karena itu, keberadaannya sama dengan dimensi kehidupan lainnya, seperti ideologi, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Mereka yang ingin dakwah ini berjalan sesuai jalurnya (gerakan dakwah ilallah), agar banyak dirasakan masyarakat tentunya menyadari bahwa kemenangan politik hanya dapat dicapai melalui perjuangan dakwah yang melibatkan aspek politik.

Sementara itu, kehidupan kaum muslimin dewasa ini menuntut pembaruan orientasi dikalangan gerakan dakwah. Pembaruan orientasi itu meliputi arah dan model dakwah yang sesuai dengan tuntutan dan problematika masyarakat kontemporer (kekinian).

Dalam menghadapi tuntutan-tuntutan itu semua, maka gerakan dakwah hendaknya berorientasi pada pembangunan masyarakat Islam dalam satu sisi dan memobilisasi kekuatan politik umat hingga membuahkan kemenangan politik.

Menjauhnya umat Islam dari risalah Nabi Muhammad SAW dan dengan adanya konspirasi besar-besaran yang menyerbu umat Islam dari berbagai penjuru, diyakini memperparah kelemahan umat Islam dalam menghadapi serbuan peradaban materialistic, yang berujung melemahnya kekuatan dalam perjuangan dakwah Islam.

Namun demikian, ternyata kondisi seperti itu tidak memusnahkan semua potensi kekuatan serta peninggalan peradabannya. Aqidahnya tetap utuh, kokoh sekaligus kuat dan ajaran-ajarannya tidak tergusur meskipun usaha-usaha pembusukan dan langkah memandulkan serta meminggirkan gerakan Islam dan kaum muslimin terus berjalan dan berlangsung hingga kini.

Bahkan gerakan-gerakan dakwah Islam yang ingin mengembalikan ‘izzatul Islam wal Muslimin’ terus marak dan berkembang dihampir semua bagian di muka bumi ini. Gerakan-gerakan itu ingin menegakkan agama Allah di muka bumi dengan sejumlah agenda-agenda perubahan yang dicanangkan untuk menuju masyarakat yang madani.

Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti hawa nafsu (keinginan) mereka dan katakanlah, "Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil diantara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali”. (QS Asy Syura: 15)

Pernikahan Bukan Sekedar Formalitas

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan satu dengan yang lainnya, menyatukan keduanya dalam takwa, serta menumbuhkan darinya rasa tenteram dan kasih sayang.

Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah, telah mensyari'atkan adanya pernikahan bagi setiap manusia. Dengan pernikahan seseorang dapat memenuhi kebutuhan fitrah kemanusiaannya dengan cara yang benar sebagai suami isteri, lebih jauh lagi mereka akan memperoleh pahala disebabkan telah melaksanakan amal ibadah yang sesuai dengan syari'at Allah SWT.

Pernikahan dalam pandangan Islam, tidak hanya sekedar formalisasi hubungan suami isteri, pergantian status, serta upaya pemenuhan kebutuhan fitrah manusia. Pernikahan tidak hanya sekedar upacara sakral yang merupakan bagian dari daur kehidupan manusia.

Pernikahan merupakan ibadah yang disyari'atkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya, maka tidak diragukan lagi pernikahan adalah bukti ketundukan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah tidak membiarkan hamba-Nya beribadah dengan caranya sendiri.

Allah yang Maha Rahman memberikan tuntunan yang agung untuk melaksanakan ibadah ini, sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

Maka adalah sebuah kecerobohan, bila hamba-Nya yang ingin melaksanakan ibadah yang suci ini (nikah) menodainya dengan bid'ah (yang tidak diajarkan oleh Islam) dan khurafat (hal-hal yang membawa kepada kemusyrikan terhadap Allah), sehingga mencabut status aktivitas itu dari ibadah menjadi mafsadat/dosa.

Adalah sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk berusaha menyempurnakan ibadahnya semaksimal mungkin, tidak terkecuali dengan sebuah proses dan kegiatan pernikahan. Semua itu dilakukan agar hikmah dan berkah ibadah dari ibadah itu dapat dirahmati dan diberkahi oleh Allah Azza wa Jalla.

Rabu, 18 September 2013

Keutamaan Zikir

Dalam Al Quran ada begitu banyak ayat yang memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Dan penjelasan tentang keutamaannya juga ada di banyak ayat Al Quran dan hadits Rasulullah Saw.

Di dalam QS Al Ahzab: 35 yang berisikan ciri-ciri orang-orang yang akan mendapat ampunan dan pahala yang besar dimulai dari laki-laki dan perempuan yang muslim, mukmin, taat, jujur, sabar, khusyu, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatannya hingga akhirnya puncak kriterianya adalah orang yang banyak mengingat Allah (berzikir).

Di ayat 41 dan 42, Allah SWTberfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”.

Keutamaan zikir juga nampak dalam hadits, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, maka Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”. (Hadits Qudsi, Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah).

Paling tidak ada beberapa keutamaan zikir yang dapat disebut di antaranya ialah:

Pertama, memperoleh ketenangan hati dan ketenteraman jiwa. Iman dan kekuatan zikir serta hubungan dengan Allah SWT menjadi kekuatan jiwa, sehingga seseorang selalu diliputi ketenangan dengan ketenteraman karena selalu ingat Allah SWT. Seperti dalam hadits Nabi SAW: “Sungguh ajaiblah orang yang beriman. Bila diberi karunia ia bersyukur (mengembalikannya kepada Allah) dan itu baik untuknya. Bila diberi musibah ia bersabar dan itu lebih baik lagi untuknya”.

Kedua, memberatkan timbangan hasanat di Yaumul Mizan. Kata Rasulullah ada ucapan zikir yang ringan diucapkan dan berat timbangan kebaikannya yaitu: “Subhanallah, walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar”.

Ketiga, dijauhkan dari segala tipu daya setan dan marabahaya. Dengan seseorang rajin berzikir ma’tsurat (zikir yang ma’tsur) misalnya di waktu pagi dan petang, maka ia terhindar dari segala marabahaya yang datang dari syaitan jenis manusia maupun jin. Tidak akan terkena terkena tipu daya setan, hipnotis, santet, pelet, dan ilmu hitam lainnya.

Keempat, memperoleh keberuntungan dan kemenangan. “Hai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseur untuk melaksanakan shalat Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Maka apabila telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah: 9-10)

Jadi berzikir kepada Allah banyak-banyak adalah kunci keberuntungan dan kemenangan.

Kelima, sebagai alat kontrol dan pengendali diri jika sudah berhasil meraih kemenangan dan kesuksesan. Dalam QS. 110, Allah berfirman: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat”.

Ayat itu mengingatkan kita agar tetap berzikir seandainya kemenangan sudah kita raih karena zikir akan jadi pengendali agar kita tidak lupa diri, ghurur atau takabbur. Semoga kita selalu terjaga dengan tetap selalu berzikir, baik dalah keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Tiada hari tanpa berzikir kepada Allah SWT.


Selasa, 17 September 2013

Keharmonisan Hidup Rumah Tangga

Keharmonisan hidup berumah tangga adalah salah satu faktor utama dalam membina sesebuah masyarakat yang baik dan terhormat. Rumah tangga yang baik dan harmoni ini sukar diperoleh tanpa adanya kerjasama serta saling hormat menghormati antara suami isteri serta anggota keluarga lainnya.

Suami harus berkelakuan baik dan berakhlak mulia dalam mengendalikan rumah tangganya. Selain itu, ia juga harus senantiasa memperlihatkan contoh-contoh yang baik dalam pergaulan supaya ia mudah diteladani oleh isteri dan anak-anaknya.

Tidak sewajarnya, di dalam rumah tangga, para suami bertindak keras, apalagi bengis hanya karena untuk mengarahkan itu dan ini, serta mau semuanya tersedia untuknya tanpa memikirkan suasana rumah tangga yang memerlukan kasih sayang, kerjasama dan saling bantu membantu.

Dalam kehidupan berumah tangga, Rasulullah Saw telah memberikan sekaligus memperlihatkan suri teladan yang baik yang dapat diikuti oleh seorang suami dalam membina rumah tangganya. Sebagai seorang suami, Rasulullah Saw sangat bertimbang rasa dan bersedia membantu istri dan keluarganya.

Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri, seperti menjahit pakaian, memerah susu kambing dan apabila mau makan Baginda Rasul makan makanan yang tersedia dihadapannya.

Rasulullah Saw sangat marah kepada suami yang ringan tangan, selalu memukul isterinya sebagaimana memukul hamba sahaya. Di samping itu, Rasulullah juga menunjukkan panduan dan contoh tentang hidup tolong menolong serta perasaan kasih sayang kepada isteri. Rasulullah Saw juga menunjukkan suri teladan yang baik, khususnya kepada mereka yang mempunyai isteri lebih dari seorang.

Sebagaimana yang diketahui umum bahwa Rasulullah Saw mempunyai beberapa orang isteri yang terdiri dari berbagai usia. Ada yang masih muda dan cantik, dan ada yang sudah berumur. Walaupun demikian, Rasulullah Saw tidak pernah bersikap pilih kasih dalam layanan kasih sayang diantara mereka.

Masa dan giliran mereka dibuat dengan adil serta cukup rapi sekalipun saat Rasulullah sakit. Apabila Rasulullah Saw hendak berpergian (musafir), maka beliau mengundi antara isteri-isterinya itu dan hanya yang terkena undi (terpilih) saja yang berhak bersamanya berpergian. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari keharmonisan rumah tangga Nabi Saw.

Sabtu, 14 September 2013

Gambaran Singkat Tentang Kisah Jin Dan Al-Quran

Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al Quran), (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. Dan sesungguhnya orang yang bodoh diantara kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. (QS Al Jin: 1-4)

Dalam riwayat shahih dijelaskan bahwa golongan jin telah mendengarkan Nabi SAW di saat beliau sedang shalat dengan para sahabatnya dan membaca Al Quran dengan lantunan suara yang mendorong jin bergerak menuju ke haribaannya.

Setelah mereka mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan memahami hakikat Kalamullah, maka mereka bertolak dan bergerak menuju masyarakatnya (kaumnya) untuk memberi kabar gembira dan mengajarkan apa-apa yang telah mereka pahami.

Allah SWT mewahyukan hal ini kepada Nabi SAW agar hatinya merasa tentram dan jiwanya tetap menggelora dalam dakwahnya meskipun orang-orang musyrik berpaling darinya.

Ayat jin ini diturunkan dalam surat Al Ahqaf secara global pada dua ayat 29 dan 30 dan secara terperinci seperti yang digambarkan dalam surat jin ini untuk memberikan teguran pada Kuffar Quraisy dan Arab yang terlambat merespon keimanan, sementara jin yang bukan dari golongan manusia lebih cepat merespon dakwah dari pada mereka.

Mereka Kuffar Quraisy tidak beriman dan bahkan mendustakannya dikarenakan sifat hasud yang menyelimuti diri mereka dan benci apabila Allah menurunkan anugerahnya kepada orang yang dikehendakiNya.

Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali.

Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia.

Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan tanpa berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT.

Ia akan berubah menjadi batu karang yang tegar menghadapi segala gelombang kehidupan dan senantiasa sabar dalam menyongsong badai ujian yang silih berganti. Ia juga selalu bersyukur apabila kenikmatan demi kenikmatan berada dalam genggamannya.

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid: 22-23)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al An'am: 59)

Kamis, 12 September 2013

Bahaya Lidah

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ada kisah menarik yang disampaikan Ibnu Katsir dalam menjelaskan asbabun nuzul Surah Al-Hujurat ayat 6. Kisah ini pernah dialami isteri Rasulullah SAW, Aisyah r.a, di bulan Sya'ban tahun kelima hijriyah.

Saat itu, Aisyah r.a, mengalami kegelisahan luar biasa akibat fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik di Madinah. Isunya pun tidak main-main. Isteri Rasul SAW yang mulia ini dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang sahabat Rasul yang bernama Shafwan.

Fakta-fakta pun terangkai dan tertata apik, seolah isu itu memang benar-benar terjadi. Mulai dari tidak tahunya sang suami, Rasulullah SAW, kalau Aisyah tidak pulang bersamanya dari suatu tempat dalam sebuah peperangan di Bani Musthaliq. Hingga, Aisyah r.a yang tiba-tiba datang berdua dengan seorang pemuda ganteng. Itulah dia Shafwan Ibnu Mu'aththal.

Dengan cara apa lagi Aisyah r.a menjelaskan kalau dirinya tidak seperti yang diisukan, padahal tidak ada seorang saksi pun kecuali mereka berdua. Fitnah pun merebak begitu subur dan meluas di seantero Madinah.

Kalau saja bukan karena firman Allah SWT yang menegaskan kesucian Aisyah, mungkin fitnah tersebut akan menjadi petaka besar bagi dakwah Islam saat itu.

Firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Jangan kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan ia baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).” (QS An Nur: 11)

Demikian dahsyatnya bahaya lidah (Afatul Lisan). Ketajaman lidah jauh melebihi pisau dan pedang sekalipun. Karena, sekali ia beraksi dan berjalan, maka korbannya tidak hanya satu atau dua orang saja, melainkan bisa seluruh kampung, daerah, negara, bahkan jamaah sekali pun.

Islam mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati dengan ucapan. "Siapa yang banyak bicara maka banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, banyak pula dosanya. Dan, siapa yang banyak dosanya, maka api neraka lebih utama baginya." (HR Athabrani)

"Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan), niscaya aku menjamin baginya surga." (HR Bukhari)


Rabu, 11 September 2013

Bekali Diri Dengan Al Quran

Al Quran adalah Minhajul Hayah bagi manusia yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Allah SWT telah memberikan jaminan terhadap kebenaran, keindahan serta kemudahan dalam menikmati Al Quran yang tidak hanya dapat dirasakan oleh siapa saja dan berlaku sepanjang zaman (QS Al Qomar 17,22, 32 dan 40).

Ungkapan syukur yang tak terkira kepada Allah SWT jika kita telah merasakan kemudahan menikmati Al Quran namun sungguh suatu musibah yang amat besar jika ternyata keakraban kita dengan Al Quran sangat lemah.

Kita harus berlindung kepada Allah SWT agar tidak menjadi orang yang menjadikan Al Quran sebagai mahjura (sesuatu yang ditinggalkan) tetapi sebaliknya kita harus menjadi orang seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang artinya: “Perumpamaan mukmin yang aktif membaca Al Qur'an bagaikan buah Urtujjah, bau harum dan rasanya lezat.” (HR Muttafaqun 'alaih)

Maksudnya, kapanpun dan dimanapun kita berada, maka Al Quran harus memberi shibghah, artinya keberadaan kita ditengah-tengah keluarga dan masyarakat harus dapat menyebarkan semerbak ketakwaan, mujahadah, jihad dan sabar. Diamnya kita dapat membawa ketenangan dan kebahagiaan bagi semua orang yang ada disekitar kita.

Kita sadar betapa pentingnya AlQuran dalam segala aspek kehidupan. Al Quran akan menumbuhkan ‘quwwatudz dzikr, quwwatul munajat, quwwatu hubb’ dalam diri kita sehingga melahirkan hati yang peka dalam menerima taujihat (pengarahan) Allah SWT.

Untuk mencapai hal tersebut kita harus membekali diri dengan Al Quran dengan tahapan-tahapan yang benar agar menghidupkan ruh Al Quran dan berinteraksi dengan Al Quran diantaranya:

Pertama, tumbuhkan sedalam-dalamnya keimanan kepada Allah SWT. Kedua, membiasakan diri tadabur Al Quran melalui terjemahan, kitab tafsir atau mengikuti kajian tafsir di masjid, mushala, kajian mingguan, dan lainnya.

Ketiga, berusaha melaksanakan segala yang diinginkan Allah SWT karena merealisasi satu ayat tidak hanya berdampak bagi peningkatan iman tetapi berdampak pula pada semakin dalamnya pemahaman kita terhadap isyarat Al Quran. Keempat, berusaha merasakan bahwa semua Khitab (intruksi) atau arah pembicaraan Allah adalah Khitab untuk diri sendiri bukan untuk orang lain.

Nilai-nilai Dalam Hati Kita

Ketika dunia kita tampaknya frustasi, maka perlu diingat bahwa bagian yang paling penting dari kita ada di luar orang frustrasi.

Ketika hidup terasa menyakitkan, maka kita tidak pernah lupa rasa sakitnya. Namun mungkin sulit, karena ia terbatas hanya pada sebagian kecil dari siapa kita sesungguhnya.

Semua yang ada di sekitar kita adalah hal yang dapat kita lihat dan sentuh, namun secara fisik memanipulasi. Mereka adalah bagian dari kehidupan, tetapi mereka tidak berarti semua yang ada.

Kita tidak bisa menahan cinta di tangan, namun kita tahu pasti bahwa hal itu ada. Kita tidak dapat menangkap sukacita dalam kotak atau amplop dan kita tidak ragu bahwa hal itu nyata.

Ketika keprihatinan luar kehidupan tampaknya luar biasa, maka ingatkan diri sendiri, masih ada lagi. Ada sangat banyak lagi untuk hidup dan menjadikan kita dapat melihat dan mendengar, rasa dan bau, sentuhan sekaligus memiliki.

Bahkan kerugian dan kekecewaan mereka merasa besar dan memberatkan, kecil dibandingkan dengan semua yang indah, dan kemungkinan positif yang hidup dalam diri kita. Lihatlah di luar, berisik, ada gangguan dangkal yang dapat mengingat keajaiban keberadaan kita.

Jalani kehidupan di sekitar kita dengan nilai-nilai yang ada di dalam hati kita. Dan orang-orang yang sehari-hari sakit dan ada gangguan, maka akan kehilangan kekuatan mereka untuk membawa kita ke bawah.

Senin, 09 September 2013

Kepedulian dan Kepekaan Sosial Dengan Berkurban

Makna yang terkandung dalam penyembelihan hewan kurban sangatlah mendalam.Yakni, melatih seseorang meningkatkan kepedulian dan kepekaan sosial.

Tujuan berkurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Makin dekat seseorang kepada Allah SWT, kian tinggi tingkat kepekaan sosialnya.

Karena itu melalui momentum Idul Adha, marilah kita tingkatkan kepekaan sosial dengan membantu saudara kita yang tertimpa berbagai musibah (bencana alam, gempa bumi, banjir maupun wilayah-wilayah miskin) dengan menyembelih hewan kurban untuk di sampaikan kepada masyarakat kurang mampu.

Berkurban, harus dilandasi dengan hati yang ikhlas semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Cara berkurban seperti itulah yang dipraktek kan Nabi Ibrahim as, yang menyembelih anaknya, Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim as lolos dalam ujian Allah SWT dan termasuk orang-orang yang sabar.

Dan makna hakiki penyembelihan hewan kurban harus membekas pada orang yang berkurban. Sebab, yang sampai kepada Allah SWT bukan daging dan darah korban, melainkan ketakwaan seseorang.

Sabtu, 07 September 2013

Setiap Langkah di Sepanjang Jalan

Prestasi membutuhkan waktu. Berharap dan bekerja untuk mencapainya, tapi jangan membodohi diri sendiri dengan berpikir bahwa hal itu akan cepat atau mudah.

Apa yang dibangun dalam sekejap dapat dirobohkan dengan cepat. Nyatanya, nilai abadi diciptakan oleh komitmen, dengan upaya yang berkelanjutan.

Ada kekayaan, kesabaran dan ketekunan akan membawa kita, karena kita tidak dapat mengalami cara lain. Gunakan setiap saat untuk bergerak maju sedikit lagi, hari demi hari, tahun demi tahun, dan hal-hal yang benar-benar luar biasa yang mungkin.

Nilai usaha apapun tidak hanya dapat hadiah di akhir. Nilai riil dalam usaha itu sendiri, dan dalam jangka panjang, pengalaman berkelanjutan membuat perbedaan positif hari demi hari.

Hargailah setiap tantangan yang kita temui, untuk tantangan yang memberikan jalur untuk bergerak maju. Menghargai nilai dan tempatkan lebih tinggi dengan menggunakan kekuatan dan kemampuan kita saat kita bergerak berhasil melalui setiap tantangan.

Dapatkan dalam kebiasaan untuk menikmati setiap langkah di sepanjang jalan. Dan kita akan memungkinkan diri kita untuk mengambil beberapa perjalanan yang benar-benar menakjubkan.

Selasa, 27 Agustus 2013

Tujuan Positif

Jangan buang energi kita untuk menjadi jengkel dan kesal hanya karena seseorang. Namun tempatkan energi kita untuk melakukan sesuatu yang positif tentang situasi dan kondisi kita.

Untuk meningkatkan bahwa kita penuh dengan jengkel, frustrasi atau marah, maka pastikan bahwa itu tidaklah efektif dan berguna. Dan itu hanya akan mengarah kepada yang lebih jengkel, frustrasi dan kemarahan.

Namun, kita dapat memilih untuk memutus siklus itu. Kita dapat memilih siklus untuk menjadi tujuan yang positif.

Jika seseorang bertindak dengan cara yang kasar dan tidak sopan, maka biarkan menjadi masalah orang itu dan bukan milik kita. Biarkan saja, dan lanjutkan ke depan dengan apa yang telah kita pilih dan dapat dilakukan.

Meskipun ada banyak hal yang harus marah, tetapi hampir tidak ada hal baik dari kemarahan kita itu dapat mencapainya. Pastikan hal itu tidak pernah terjadi lagi dengan kita.

Daripada bereaksi dengan kejengkelan, kemarahan, lebih baik arahkan energi kita dengan disengaja, kepada tujuan positif. Biarkan hal itu berjalan, agar dunia mengetahuinya.

Jangan biarkan suatu kejengkelan yang datang, dapat mengganggu orang memilih sikap kita. Pilih sendiri energi sikap positif tujuan kita, dan manjakan diri kita dengan kehidupan yang kaya dan memuaskan.


Minggu, 25 Agustus 2013

Kesadaran Kita

Hidup bisa meluncur ke bawah, atau kehidupan dapat mengangkat kita. Itu semua tergantung pada bagaimana kita memilih untuk melihat dan hidup tentang hal itu.

Komponen utama dari kelelahan, bukanlah usia, kelemahan atau keadaan. Ini adalah sikap.

Bahan utama antusiasme bukanlah pemuda, kenyamanan atau nasib baik. Ini adalah sikap kita, berdasarkan pada kesadaran kita.

Apa yang kita cari, pikirkan, fokus dan harapkan? Itu adalah apa yang kita akan alami.

Fokus sebagian besar kesadaran kita bukan pada hal-hal sepele, namun pada apa yang benar-benar penting bagi kita, untuk impian dan nilai-nilai kita. Membayar jauh lebih sedikit perhatian pada ketakutan dan frustrasi, dan lebih banyak perhatian pada kemungkinan positif dan peluang.

Lihatlah kehidupan sebagai bentuk keindahan dan memuaskan, maka kita akan membuat kehidupan yang indah dan memuaskan. Kesadaran kita memiliki kekuatan yang luar biasa, jadi gunakan dengan bijak dan penuh kasih sayang.

Jumat, 23 Agustus 2013

Seberapa Baik Kita Memilikinya

Ingatkan diri kita hari ini, seberapa baik kita memilikinya. Lalu biarkan diri kita untuk membuatnya lebih baik lagi.

Jika kita mundur dari tantangan langsung dan frustrasi, maka lihatlah gambaran besar di depan kita. Dalam gambaran besar kehidupan dan dunia kita, maka selalu lihat kemungkinan positif.

Biarkan kesadaran kita dipenuhi dengan rasa syukur atas semua itu, dan perspektif yang unik kita di dalamnya. Hargailah apa yang kita syukuri, dan bersyukur untuk apa yang kita dapatkan.

Rasa sakit harian dan kemunduran memang nyata, dan tentunya bisa sangat serius. Namun, atas dan di luar semua itu adalah keberadaan yang sangat menakjubkan kita, dan setiap kemungkinan yang baik yang dapat kita bayangkan.

Ada banyak yang harus dilakukan, dan ada lebih banyak lagi yang kita mampu lakukan. Pengalaman sejenak akan mendapatkan bagaimana rasanya memiliki kesempatan untuk membuat perbedaan.

Kemudian bertindak pada kesempatan itu, membuat perbedaan nyata dan bermanfaat dalam kehidupan, sekaligus merasa lebih baik. Ingat, seberapa baik kita memilikinya, dan merayakan keberuntungan kita dengan membuat hal positif, bahkan lebih.

Rabu, 21 Agustus 2013

Merasakan Hidup di Bawah Naungan Al Qur’an

Abu Talhah, suami Ummu Sulaim, suatu hari membaca Al Qur’an. Ketika sampai pada surat At Taubah ayat ke-41 yang berbunyi: “infiruu khifafawwatsiqaalan” (berangkatlah kamu sekalian dalam keadaan merasa ringan ataupun berat), lalu ia menghentikan bacaannya dan berkata, “Aku tidak berpendapat selain Allah SWT. Memerintahkan berangkat ke medan perang baik orang muda maupun sudah tua”.

Saat itu Abu Thalhah sudah berusia lanjut dan punya anak-anak berusia muda. “Wahai anak-anakku, tolong siapkan segala perlengkapan perangku!” perintah Abu Thalhah. Mendengar perintah yang serius itu, anak-anak Abu Thalhah yang juga ‘singa-singa’ Allah itu tersentak. Mereka menilai ayahnya terlalu tua untuk turut berperang. Mereka mencoba menahannya.

“Ayah, engkau telah berperang bersama Rasulullah SAW hingga beliau wafat. Engkau juga turut seta berjihad bersama khalifah Abu Bakar sampai beliau dipanggil Allah SWT. Dan engkau pun tak pernah ketinggalan dalam menegakkan kalimatullah bersama Umar bin Khattab sampai beliau pun meninggalkan kita. Oleh karena itu, sekarang cukuplah kami yang terjun ke medan jihad itu”.

Tak terlihat perubahan sikap pada diri Abu Thalhah. Bahkan selanjutnya dia berkata, “Wahai anak-anakku, tolong siapkan perlengkapan perangku. Tidakkah kalian tahu bahwa Allah SWT telah memanggil kita yang muda maupun yang tua dengan firmannya “infiruu khifafawwatsiqaalan”.

Akhirnya, Abu Thalhah pun berangkat. Pertempuran yang ia terjuni kali ini pertempuran laut. Dan beliau mendapat kemuliaan syahadah (mati syahid) di tengah lautan. Setelah perjalanan satu pekan di laut, baru kawan-kawannya menemukan dataran untuk mengebumikan jasad as-syahid. Yang luar biasa, sampai saat dikebumikan, tubuhnya tak berubah sedikitpun.

Itulah sosok mukmin yang telah menjadikan Al Qur’an sebagai panduan hidupnya. Jiwanya, pikirannya, dan seluruh tubuhnya telah benar-benar ‘dirasuki’ kalam ilahi. Orang seperti Abu Thalhah telah menjadi manusia yang hidup di ‘alam lain’. Ia tak lagi terbelenggu dengan jerat-jerat dunia. Ia telah menjadi manusia yang melayang-layang ke angkasa keimanan sehingga selalu siap menerima segalah titah dari Khaliqnya.

Seperti itu pulalah yang dirasakan Sayyid Quthb dalam interaksinya dengan Al Qur'an. Sayyid Quthb, seperti ungkapannya yang dituangkan dalam mukadimah Fii Dzilaalil Qur'an, merasakan hidup di bawah naungan Al Qur’an benar-benar penuh kenikmatan, keteduhan, kelapangan jiwa serta kemuliaan yang tiada taranya.

Ia merasa diangkat oleh Al Qur’an sedemikian tinggi di atas segala daya tarik dunia dan propaganda-propaganda murahannya. Ia telah diangkat sedemikian tinggi sehingga dapat melihat kedegilan orang-orang yang ingkar kepada Penciptanya. Ia melihat mereka bagaikan orang dewasa yang sedang memperhatikan bocah-bocah ingusan yang sedang bermain-main dengan lumpur.

Jika itu yang dirasakan Sayyid Quthb, maka sangat wajarlah jika ia lebih menyukai kematian mulia, syahadah, ketimbang harus menjadi budak penguasa yang zhalim. Dalam perjalanan sejarahnya, Al Qur'an berhasil menghidupkan umat-umat yang ‘mati’.

Betapa banyak manusia yang berhati sekeras batu, bengis, dan tak berperikemanusiaan, lalu tiba-tiba menjadi manusia yang gampang mengucurkan air mata di hadapan Penciptanya dan menjadi penegak keadilan yang tangguh.

Luar biasa memang Al Qur’an. Maha Besar Allah SWT yang telah berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al Qur’an) dengan perintah Kami”. (QS Asy-Syura: 52).



Minggu, 18 Agustus 2013

Membaca Al Quran Dengan Teratur

Membaca Al Quran setiap hari selayaknya menjadi kebiasaan kita dan sangatlah dianjurkan agar kita khatam Al Quran dalam waktu tidak lebih dari satu bulan dan tak kurang dari tiga hari. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar biasa melakukan puasa, sementara setiap malam membaca keseluruhan Al Quran.

Ketika hal ini disampaikan kepada Rasul, beliau memanggil Abdullah. Rasulullah berkata, "Aku memperoleh informasi bahwa engkau biasa melakukan puasa dan menyelesaikan membaca keseluruhan Al Quran dalam semalam". Dijawab oleh Abdullah, "Betul ya Rasulullah SAW, niat saya hanyalah ingin mendapat kebaikan." Rasul bersabda, "Seharusnya telah cukuplah bagimu untuk berpuasa selama tiga hari dalam sebulan."

Abdullah berkata, "Ya Rasulullah, saya kuat untuk berpuasa lebih dari 3 hari dalam sebulan." Rasul bersabda, "Dengarlah, isterimu punya hak atas kamu dan tubuhmu punya hak pula atas kamu; karena itu, berpuasalah seperti nabi Allah, Daud. Dia adalah abdi yang terbaik di antara manusia."

Abdullah berkata lagi, "Ya Rasulullah, bagaimanakah cara nabi Daud berpuasa?" Dijawab oleh Rasul, "Beliau biasa berpuasa satu hari dan hari berikutnya tidak berpuasa. Dan kamu juga boleh menyelesaikan membaca seluruh Al Quran dalam satu bulan". Abdullah berkata, "Ya Rasulullah, saya lebih kuat dari itu".

Beliau bersabda, "Selesaikanlah dalam 20 hari". Abdullah bin Umar berkata, "Ya Rasulullah, saya lebih kuat dari itu". Dijawab oleh Rasul, "Selesaikanlah dalam 10 hari". Abdullah bin Umar berkata, "Saya lebih kuat dari itu".

Rasul menjawab bahwa dia seharusnya menyelesaikannya setiap 7 hari dan jangan khatam kurang dari itu, karena "isterimu memiliki hak atas kamu, tamu memiliki hak atas kamu, dan juga ada hak-hak tubuhmu".

Abdullah bin Umar berkata, "Saya ingin kekerasan jadi saya memperoleh perintah-perintah keras, dan Rasul bersabda, 'Kamu tidak tahu, barangkali kamu akan hidup lama'. Apa yang dikatakan oleh Rasul benar adanya. Ketika saya menjadi tua, saya menghendaki bahwa dulu saya melakukan sesuatu atas izin Rasul" (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amar bin Aas: "Rasulullah SAW bersabda, 'barangsiapa yang menyelesaikan membaca Al Quran dalam waktu kurang dari tiga hari maka dia tidak akan dapat memahaminya'. Yang dimaksud dengan tidak memahami Al Quran di sini adalah bahwa dia tidak akan dapat memahami dasar-dasar makna maupun realitasnya.

Perihal pahala (thawab) untuk membaca Al Quran, bila dia mampu khatam dalam satu hari dia tidak akan kehilangan pahala tersebut, namun pahala untuk merenungkan serta memikirkan (tadabbur) Al Quran tidak akan diberikan kepadanya.

Pentingnya membaca Al Quran setiap hari adalah karena hati kita membutuhkan makanan dan perawatan; dan hanya dalam Al Quran sajalah kedua hal ini telah disediakan: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari TuhanMu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS Yunus: 57)

Seseorang yang tidak membaca Al Quran setiap harinya, akan diserang penyakit tanpa disadari. Lentera iman di dalam dadanya semakin mengecil dan dia tidak begitu memperdulikan masalah ini. Karena itu, untuk menciptakan hangatnya keimanan di dalam dada kita, membaca Al Quran setiap hari sangat perlu: "…dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya)..." (QS Al Anfaal: 2)

Namun, bila karena satu dan lain hal kita tak dapat membaca Al Quran setiap hari maka sediakanlah beberapa hari dalam satu bulan dimana kita dapat menyelesaikan membaca sebagian dari Al Quran. Semoga keberkahan selalu menuai dalam hati kita. Amin

Selasa, 06 Agustus 2013

Menjadi Manusia Baru Setelah Ramadhan

Tidak terasa, perjalanan waktu begitu cepat berlalu, tanpa bisa ditunda sedetik pun juga. Ramadhan, bulan yang penuh berkah, saat yang paling pas untuk menggali ibadah dan meminta ampun serta bertaubat kepada Allah SWT pergi meninggalkan kita semua hingga tahun berikutnya.

Sementara itu, kita tidak pernah mengetahui, apakah Ramadhan tahun depan masih sempat bersama dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai untuk melaksanakan ibadah Ramadhan?

Apakah Ramadhan tahun berikutnya masih dapat kita rasakan keindahannya untuk memperbanyak ibadah puasa, shalat tarawih, tilawah Alquran, memperbanyak istighfar kepada Allah SWT dan lainnya? Pertanyaan itu akan terus muncul dan tidak ada yang pernah mengetahui jawabannya selain Allah SWT, tempat kita menyembah dan meminta.

Setiap yang datang, pasti akan berlalu pergi. Sesungguhnya, bulan Ramadhan menjadi saksi atas segala amalan yang kita lakukan selama ini, apakah itu berupa keburukan dan maksiat, ataukah ibadah dan amal shaleh.

Karena itu, intropeksi diri menjadi suatu hal yang penting mulai saat ini, melakukan evaluasi (muhasabah) terhadap segala hal yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan yang kita jalani. Tentunya, agar Ramadhan tahun ini tidak berlalu begitu saja seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.

Setelah Ramadhan, adakah perubahan pada diri kita? Selama sebulan penuh, kita memasuki masa-masa ibadah yang telah diwajibkan, semoga kita mendapatkan ampunan dari-Nya. Lahir kembali sebagai manusia baru, layaknya seorang bayi yang lahir tanpa dosa.

Selama puasa Ramadhan kemarin, kita lakukan dengan tulus ikhlas semata hanya mencari ridhanya, dan terbebas dari hal-hal yang membatalkan puasa. Inilah kesempatan yang tak ternilai harganya bagi umat Islam. Allah SWT memberikan ‘mekanisme’ penambahan pahala sekaligus pembersihan dosa.

Janji Allah, jika seorang yang beriman berpuasa dengan tulus ikhlas semata-mata hanya untuk menjalankan perintah-Nya, maka Allah SWT berjanji akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Bisa jadi, Allah SWT sudah mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita mungkin belum terbebas dari dosa-dosa yang kita perbuat kepada manusia lain.

Dan, Allah SWT tidak memberi garansi akan memaafkan dosa itu kecuali kita sendiri mohon maaf kepada orang-orang yang terhadapnya kita telah berbuat dosa. Ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap manusia menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya. Hal itu karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat dan mudah melaksanakan kebajikan.

Mereka yang dahulu malas-malasan dalam melaksanakan shalat lima waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Semoga, selepas Ramadhan ini, insya Allah setiap kita terlahir lagi menjadi manusia baru yang fitri. Mari kita isi lembaran baru itu dengan amalan yang Allah ridhai.

Cecep Y Pramana
@CepPangeran
blogmotivasionline.blogspot.com



Minggu, 04 Agustus 2013

Mulai dari Kecil

Bahkan prestasi terkecil sekalipun memiliki nilai yang besar. Karena ia digerakkan oleh momentum positif.

Setelah kita mulai menciptakan nilai, maka kita dengan mudah bergerak menuju penciptaan nilai lebih. Hal terbaik tentang kesuksesan, tidak memberikan kesempatan yang lebih besar untuk kesuksesan yang lebih.

Pergi ke depan dan memulailah dari yang kecil, dan jika kita tidak dapat memulai dari yang kecil, kemudian mulailah dari yang lebih kecil.

Intinya adalah, melakukan apapun yang kita bisa dengan apa pun yang kita miliki, dan ingin melakukan banyak untuk membuat kita bergerak dalam arah produktif positif.

Selalu ada sesuatu yang dapat dilakukan. Selalu ada beberapa langkah kecil ke depan yang dapat membuat kemajuan yang berarti.

Kemampuan kita untuk mencapai sesuatu tidak terbiasa naik. Bahkan, semakin kita menggunakannya, maka semakin tumbuh kuat.

Buatlah sedikit keberhasilan, dan alami betapa besar rasanya. Apakah nilai dari positif, diberdayakan, dan tidak ada batas di mana kita dapat pergi.

>> follow twitter @CepPangeran


Sabtu, 03 Agustus 2013

Momentum Perubahan

Jika tampaknya tidak ada yang benar, maka pola istirahat dengan mendapatkan diri kita akan benar. Ketika momentum perubahan mendorong kita untuk mundur, maka buatlah pilihan untuk membuat beberapa positif, lalu momentum ke depan diarahkan.

Hanya karena beberapa hal negatif yang terjadi pada kita, bukan berarti kita mengalami hari yang buruk. Artinya, kita memiliki kesempatan untuk membuat perbedaan yang berarti dalam arah positif.

Daripada menyiksa atas kemunduran dan kekecewaan, maka dapatkan semangat dan antusias tentang hal baik yang kita sekarang dapatkan. Dapatkan energi dan kemudian dapatkan kesibukan untuk benar-benar melakukan, ambil tindakan positif dan dapatkan hasil yang positif.

Jadilah momentum perubahan. Meskipun hari ini mungkin sudah mulai keluar dalam arah yang dituju, tidak dapat berakhir sekarang dengan kita. Setiap pola negatif, kita dapat melanjutkan jika kita membiarkannya.

Hentikan pola negatif, ubah momentum dan ubah sepanjang hari dengan memilih tindakan positif. Kita memiliki kekuatan untuk menjadi momentum perubahan, begitu pula menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri dan semua orang di sekitar kita.

>> follow twitter @CepPangeran